Sabtu, 05 November 2016

Warung Banyolan #Episode 1 (by Lestari)

Warung Banyolan alias Dagelan Semata.
·         Mari teman-teman buat kisah lucu seputar sekolah kita sekedar hiburan.
·         Kisah sepenggal dan  tidak bersambung ya...
·         Kisah ini estafet, siapun boleh menulis dengan tema baru dan bebas.
·         Kisah fiktif juga boleh.
·         Mohon tidak berbau sara dan saru ... he he he ( dikiit gpp dech )
·         Kirim aja ke Mr. Blogger biar dia yang mengurutkan episodenya.
·         Kalau ada yang tidak nyaman atau tidak berkenan, japri aja langsung ke penulis biar di revisi .  Makaciih ya.   ( Tari )

Episode -1
( ini kisah nyata )
Lucu nggak yaahh... ???
Cerita ini berawal saat aku mendampingi Mas ku ( suami ) ke kota Magelang untuk sebuah acara serah terima penghargaan karya pengabdian  di yayasan Tarakanita .   Pagi itu dalam perjalanan Sri Mulyani japri aku untuk menemui seorang teman guru bernama Pancawati. “ Ok, Mbakayu Mulyani , nanti aku temui dia, biar mas ku menunjukkan yang mana Pancawati”. Pada saat yang sama Init juga japri aku untuk ambil kesempatan bertemu, “ wouw bakal heboh ini nanti , sambil menyelam minum air, kata peribahasa di dalam pelajarannya Ibu Masquroh “. Sampai di SMA Tarakanita, kami satu rombongan dari Solo Baru di sambut degan suka cita.  “ Mas yang mana bu Pancawati ? tanyaku “ , sabar ya , aku temui dia dulu.  “ Bu Panca , istriku mau bertemu , katanya kalian teman satu SMP , begitu mas ku memberi info pada bu Pancawati “.  Saat aku memasuki aula yang besar sambil tersenyum, Pancawati juga tersenyum sambil melambaikan tangannya.  Dan ketika kami sudah saling mendekat : “ Hey Pancawati, ketemu di sini...ingat aku nggak ? aku Tari ...Lestari”.  
Sambut Pancawati sambil tertawa gembira :  kita satu sekolah to ? aku lupa- lupa ingat  ( itu alias lupa bokkk ...hehehe ).  Sambungnya lagi : kog tahu aku di sini ? “ jawabku, Sri Mulyani yang kasih tahu “. Kamipun berpelukan erat dan mesra seperti menemukan kembali saudara yang hilang.  Orang di sekitar sampai memandang heran. Pancawati menggandeng tanganku dan akupun diperkenalkan pada teman-temannya.  “ Kenalkan ini Tari temanku SMP dulu”, kami berjabat tangan sambil masih tertawa renyah karena gembira.  Seorang laki-laki lalu bertanya : berarti satu sekolah juga sama saya ? kog aku lupa ya, dulu Tari di kelas apa ? , “ Tiga tahun di kelas A”, jawabku mantap. Lalu sambung dia lagi : loh sama,  aku juga di kelas A, tapi kog nggak ingat yo aku. Kata Pancawati kemudian “ kamu memang pelupa ... hahaha “.  Setelah itu kami ambil kesempatan sebentar ngobrol berdua sebelum acara di mulai. Dia bertanya tentang Sri Mulyani, minta fotonya dan nomor WA nya.
            Singkat cerita setelah acara selesai , kami ngobrol lagi mengenang kisah SMP dulu, bahkan sekarang sudah ada grup dan akan reuni di bulan Desember. Semakin lama kami ngobrol aku jadi semakin bingung lalu kataku “ kog ora gathuk kabeh yo ?”  lalu dia bertanya “ Loh Tari , SMP mu CC 1 to ? “ , “  iyo Pancawati , lha piye to ? jawabku juga heran. Dia tertawa terbahak bahak , katanya  “ makane ora gathuk, lha wong aku ki SMP Sanata Dharma, Mrican. Balas aku yang kemudian tertawa terbahak.  Kamipun  tertawa sambil berpelukan lagi membuat orang - orang di sekitar aula heran dan ikut tertawa. Kata Pancawati kemudian : Tari , nggak usah bilang-bilang ke semua orang kalau kita ini sebenarnya beda SMP hahaha.  Jawabku : iya setuju, anggap saja dapat teman baru ya, semua ini terjadi gara-gara japrian Sri Mulyani hahaha.
Di luar sudah menunggu Init yang datang mengunjungiku.

  Aku pamit Pancawati dan segera menemui Init yang tampak agak gelisah menuggu. “ Hey Nit ....Hey Tari.....”, kemudian kami berpelukan, berpelukan dan berpelukan lagi,  hahaha  seneng banget rasanya. Kami ngobrol ngetan ...ngulon  , dia mengajak main ke rumahnya , tapi aku nggak bisa karena ikut rombongan, dia juga menawarkan menu makan siang yang lezzat , sekali lagi maaf aku nggak bisa. Akhirnya kami berfoto ria...hahaha macam-macam aja posenya, kayak ABG , kayak teletabis, kayak penari India ...heboh dah pokoknya. Orang-orang di sekitar taman sampai ikut tertawa heran,bahkan mas ku sampai geleng-gelang kepala melihat kelakuan kami kayak anak kecil lagi ,  tapi kami cueeek saja.  Waktu harus memisahkan kami, aku dan Init berpamitan. Pertemuan singkat tapi menyenangkan...banget.   Terimakasih ya Init yang lucu puoolll.
 Jemuwah, 4 Nopember 2016
Tari

Antara Kenangan, Suka Dan Duka Kini #6 (by AurI JayA)

Antara Kenangan, Suka dan Duka kini (6)

Kebetulan Pak De dan Bu de ku seorang Guru SD. Mereka mengajar di SD Gambiranom. Akhirnya, kami bertiga juga bersekolah di SD ini. Menginjak aku naik ke kelas II SD aku mendapatkan kabar Ayahku meninggal dunia. Sekali lagi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku ingat sempat sedih waktu itu. Tetapi tidak lama. Entahlah, apa yang membuatku begitu.

Yang ku ingat, nenek ku sempat bergumam pada ku. "Kamu sudah menjadi anak yatim sekarang," katanya. Waktu itu, aku juga belum bisa mencerna apa makna ucapan nenek aku. Tetapi, ucapan itu seperti tak pernah lekang dari pikirku. Sampai sekarang. Hari berganti hari,tahun berganti tahun, aku seperti tidak pernah memikirkan siapa kedua orang tua ku. Meski kami juga tahu, tidak bersama kedua orang tua kandungnya.

Kami merasa tidak berbeda dengan anak-anak yang lain. Kami merasa, tidak ada yang beda diantara kami. Maklum, Bu de dan Pak de ku pasangan yang tidak memiliki keturunan. Jadi keberadaan kami bertiga di rumah itu, seperti tidak mendpatkan masalah yang berarti. Bisa dibayangkan jika ternyata Bude dan Pak De adalah keluarga yang sempurna, memiliki anak. Mungkin kami akan mengalami perjuangan yang berbeda. Tetapi, itulah namanya jalan Tuhan.

Meski begitu, aku bukan orang yang gampang meminta. Sejak kecil aku sudah menjadi orang yang perasa. Sejak aku dipisahkan sama Ayahku, aku sedikit demi sedikit terus mengerti, bahwa aku tidak bersama orang tua kandungku. Sebuah nasihat Ayahku, sebelum kami saling berpisah, "Nak, kamu nanti tidak bersama Papi. Kamu jangan suka meminta, jangan bikin susah orang," katanya. Dulu kami memanggil ayahku dengan sebutan papi.

Entahlah, kala itu aku juga belum mengerti apa yang dibisikkan Ayahku. Tetapi, aq selalu ingat bisikan itu. Awal-awalnya, nenek ku sering menawarkan sesuatu ke aku. Atau bulik-bulik ku. Aku menolaknya. Aku menolaknya dengan mengucap bisikan papi. Aku sering melihat nenek ku meneteskan air mata, tatkala aku selalu menolak tawarannya dengan ungkapan itu.

Aku sendiri sudah lupa kapan aku mengucap dan menolak pemberian seperti itu. Karena, dilain pihak, aku juga tidak jarang meminta sesuatu kepada nenek ku. Kalau tidak diberi juga menangis. Seperti anak-anak pada umumnya. Kalau tidak dituruti, aku juga ngambeg. Bahkan, kalau ngambeg gak mau makan. Tidak konsisten.

Suatu ketika, setelah dewasa aku mencoba mereview kembali diriku. Termasuk kelakuan ku. Aku menyinggung pesan papi. Jangan suka meminta, dan jangan bikin susah orang lain. Nenek ku pernah bilang," Iya kalau dikasih sesuatu yang kamu tidak suka, atau tidak sesuai keinginan kamu bilangnya selalu begitu, " kata nenek ku. Menurut nenek, dirinya baru menyadari kapan aku mengucap seperti itu juga setelah kejadian selalu terulang. 

"Awalnya, trenyuh.... tetapi setelah tahu otakmu bulus, aku sudah gak pernah mau nawarin lagi," cerita nenek ku terkekeh-kekeh sembari mengunyah kinangnya. Ehmmm... pikir ku. Sudah sepicik itukah aku dulu? Biasanya, bulik ku menimpali,"Dari bayi kamu itu sudah banyak akal," ungkap bulik ku. Entahlah...

Kami berada di keluarga yang biasa-biasa. Sebagaimana keluarga guru pada umumnya. Dulu jaman SD keluarga Bu De ku bikin usaha rumahan. Bikin es bungkus kemudian dititipkan ke warung-warung tetangga. Maklum, jaman itu di kampung masih jarang yang punya kulkas. Ibuku membelikan kulkas. Kulkas itulah kemudian diberdayakan. Selepas mengajar, Bude ku memasak air dan membuatnya adonan es. Sore menjelang petang, setelah adonan itu dingin membungkusnya dengan plastik kecil memanjang.

Kemudian dimasukkan ke kulkas. Pagi harinya, sebelum ke sekolah, Bude ku membaginya ke dalam termos. Ada beberapa termos. Tugas kami menitipkan ke warung-warung terdekat. Terkadang kami bawa saat kami berangkat ke sekolah. Atau , pagi-pagi sebelumnya , kami antar dulu ke warung kemudian pulang lagi, mandi dan berangkat sekolah,

Begitu hingga berjalan beberapa tahun. Kami sempat menikmati hasilnya. Kami memiliki uang saku kalau ke sekolah. Kami bisa jajan di sekolah. Tetapi, lambat laun usaha ini makin banyak pesaingnya. Sejumlah tetangga mulai ikutan bisnis ini. Hingga akhirnya omset kami berkurang. Warung pun mulai pilih-pilih.

Entah karena apa, bude ku seperti merasa bosan. Mungkin karena capai. Kegiatan di sekolah semakin padat. Bude dan Pak de ku, banyak ikut rapat. Entahlah rapat di mana. Yang aku tahu waktu itu, mereka berdua selalu pulang agak larut. Sehingga tidak mungkin lagi melakukan kerja sambilan. Akhirnya pekerjaan ini vacum. Hanya waktu-waktu tertentu saja kami bikin es.

Vacumnya usaha ini membuat kami tidak lagi ada jatah uang saku saban harinya. Hanya waktu-waktu tertentu saja aku mendapatkan uang saku. Misalnya pas ada pelajaran olahraga. Atau mungkin pas ada latihan pramuka. Tetapi, itu semua tidak membuat kami bersedih. Semua berjalan seperti biasa. (bersambung)


YOur SMile (a poem by REtno)

Your smile
(writer: Retno)

You looked so quiet…          
It seemed you   ignored me…
My heart beat  quicker when I saw you…    
How could I show my feeling?
If you were busy and happy with others

I just  let everything go
And tried to forget you
One thing I couldn’t  forget about you..
When you walked and saw me….you gave me your  sweet smile
Your eyes looked sparkling when you smiled

When I saw your smile and sparkling eyes….the world was mine…
So…no wonder if…
More than thirty years….your smile still stay in my heart..













Tangerang…November 5, 2016

Rabu, 02 November 2016

Memori Sego Wiwit (by M.Sodiq.A.J)

Memori 2 Oktober 2016 di Sego Wiwit
(Awal Pertama Kita Bertemu Setelah Sekian Lama (33 Th) Engkau Terkurung di Hatiku)


Saat itu ....
Hujan turun tiada berhenti....
Membasahi rumput hijau yg kini layu....
Kan  kukisahkan derita hatiku ini....
Tetesan hujan membasahi pipimu...
Ooo Sayang hatiku pun menderita ...
Kita berdua senasib dan serupa penderitaan....
Kurasakan apa yg kau rasa tiada berbeda....
Di saat ini hujan mulai reda....
Cuaca terang
Dalam angan .....
Tetesan hujan kuusap lenyap dipipimu
kumerasa mendapatkan ganti....
Walau sejenak terasa cukup mesra....
Tapi sayang ketika hujan berhenti....
Kita mengucapkan ...kata berpisah...
Oooo Sayang sampai kini tak berjumpa lagi…

Untuk Seseorang di SANA !!
Mataku tak lepas darimu... sadarkah kau?


Antara Kenangan, Suka dan Duka Kini # 5 (by Auri Jaya)

Antara Kenangan, Suka dan Duka Kini  # 5 (by Auri Jaya)
        Teman ku SMP adalah orang-orang hebat. Mengapa begitu? Kalau aku menyimak cuitan teman-teman di grup, rasanya semua mengalami perjuangan. Sekalipun, mereka hidup bersahaja bersama bapak dan Ibu, bersama keluarga besarnya.

        Jaman itu mungkin banyak yang mengalami masa-masa hidup  segala keterbatasan. Mungkin begitulah kira-kira gambaran sederhananya. Meski tidak dipungkiri, tidak sedikit pula teman-temanku yang hidup delam keberlimpahan.
        Dulu, aku sempat berpikir aku adalah anak yang paling malang. Aku adalah anak yang paling tidak beruntung. Aku adalah anak yang paling sengsara.  Aku adalah anak paling tidak mampu . Dulu aku sempat berpikir, teman-teman ku adalah anak orang kaya. Teman-temanku adalah orang-orang yang berbahagia. Selalu ada apa yang mereka inginkan. Maklum, sejak kecil aku memang tidak pernah ikut dengan orang tuaku. 

Bapak ku dulu seorang tentara. Ia tinggal di Jakarta. Ibuku juga orang biasa-biasa saja, yang bekerja satu korp dengan Bapak ku. Juga tinggal di Jakarta.
        Masa kecilku pernah aku lalui di Jakarta. Di komplek tentara juga.  Tetapi, ketika  Bapak dan Ibuku sudah tidak bersama lagi. Mungkin, dulu aku dijadikan harta gono-gini yang harus dibagi-bagi. Aku adalah tiga bersaudara. Semua lelaki. Masa-masa kecil, karena suatu keadaan, kami dibagi-bagi dan terpisah satu sama lainnya. Adikku yang terkecil dititipkan ke nenek. Sementara adik ku yang nomer  dua ikut Bude. Keduanya du Jogja.
        Sementara aku tetap ditinggal di Jakarta. Tidak dititipkan. Tetapi, diikutkan bapaknya. Entah apa yang dipikirkan kedua orang tua ku saatu itu. Sampai saat ini aku juga belum pernah bertanya. Dan saya juga merasa tidak perlu bertanya.
        Namun, di menjelang kami semua mengerti, nenek kami rupanya punya pemikiran yang mulia. Nenek ku, yang tinggal di pegunungan berbatu didaerah Kulon Progo memiliki pemikiran yang sangat maju. Setidaknya  pada jaman itu.
        Nenek ku tidak mau kami bertiga dipisahkan.  Dia berupaya bagaimana kami bertiga hidup satu atap. Tidak terpencar-pencar. Pemikirannya sederhana, " bagaimana pun mereka adalah cucu-cucu ku," begitu kata nenek jika ditanya soal kami.
        Mungkin, kala itu, dia ingin melihat perkembangan cucunya. Cucu-cucunya yang nakal. Mungkin juga merasa ikut bertanggung jawab atas kegagalan anaknya dalam membangun rumah tangga. Nenek ku tak ingin kami bertiga tercerai berai karena perpisahan orang tuanya. Semua serba kemungkinan. Sekali lagi, aku tidak pernah mengorek lebih jauh soal ini kepada nenek ku.  Akhirnya, nenek ku pergi ke Jakarta. Datang ke Bapakku dan menjemputku, mengajakku hidup ke desa di lereng pegunungan.  
        Aku ingat, Bapakku sempat keberatan untuk melepasku saat itu. Tetapi, entah karena apa, aku merasa sejuk ketika dekat dengan nenek ku. Aku merengek, aku mau ikut nenek. Mau bersama adik-adikku , yang sudah duluan ada jogja. Bapak ku seperti tak berdaya. Ia akhirnya melepasku.
        Dari Jakarta, kami bermigrasi ke sebuah desa kecil di lereng pegunungan. Di daerah kulon-progo. Kami berkumpul dengan adik ku yang terkecil, yang sudah terlebih dahulu bersama nenek. Entah apa yang ada di benak nenek ku dulu. Setahu ku nenek ku bukan hanya sekedar orang desa, tetapi beliau juga buta huruf. Beliau tidak bisa membaca tulisan. Tidak mengerti surat menyurat. Juga tidak mengerti angka.
        Tapi soal duit? Jangan ditanya. Mau duit berapa aja hafal. Juga hitung-hitungannya.  Semua di luar kepala. Kebetulan nenek ku dulu suka berdagang. Berdagang di pasar desa yang jualannya  hanya pada hari-hari tertentu saja.
        Sekalipun tidak pernah sekolah, juga tidak bisa membaca dan menulis, nenek ku memiliki pemikiran yang brilian. Terutama pemikirannya dalam membesarkan ketiga cucunya.
        Dia tidak hanya memikirkan bagaimana menyatukan kami. Tetapi bagaimana ketiga cucunya bisa berpikir maju ke depannya. "Meski pun suatu ketika, ternyata hanya bisa menyekolahkan kalian cuma sampai SMA," begitu kata Nenek ku dalam sebuah kesempatan  beberapa tahun silam.
        Akhirnya, kami tidak dibiarkan tinggal di desa. Kami dititipkan lagi. Kami disatukan dengan adik ku yang nomer dua, yang sudah lebih dulu ikut sama Bude. Yang tinggal di Jl. Kaliurang, dusunnya Ngabean. Akhirnya, Bude dan Pak De ku inilah yang seakan adalah orang tua kami. 
        Ngabean juga belum kota-kota amat waktu itu. Masih desa juga. Namun jika dibandingkan desa nenek ku, sudah jauh lebih baik. Di desa ini, kita bisa belajar naik sepeda. 
        Dan jangan salah. Adikku nomer dua lebih dulu jago naik sepeda dibandingkan aku. Dia juga lebih dulu punya sepeda dibandingkan aku. Maklum, waktu di desa nenek ku, boro-boro main sepeda. 
        Untuk berjalan kaki saja kita harus ekstra hati-hati.Kalau musim hujan, jalan berbatu dan bertebing, selalu licin. Jalannya tidak ada yang lurus. kalau pergi kita turun seperti rol koster. Kalau pulang ke rumah kita naik, seperti memanjat pohon kelapa.
        Tetapi, aku bersyukur. Aku punya nenek yang punya visi. Aku bersyukur, aku punya nenek yang bercita-cita. Aku bersyukur, aku punya nenek yang mengerti akan dibekali apa cucu-cucunyake depan.

        Tentu, aku baru meyadarinya belakangan. Aku baru menyadarinya ketika nenek ku telah tiada. Aku baru menyadarinya, ketika aku sudah tidak lagi melihat nenek bermandi peluh, bekerja keras untuk memberikan makan, membesarkan kami. Aku, seperti juga anak-anak pada jaman itu, hanya mengerti keinginan. Aku ingin apa, tinggal minta dan harus ada. Tidak pernah berpikir, bagaimana nenek aku bekerja keras. Karena yang aku tahu saat itu, Aku ingin sama dengan yang lain. Ingin sama dengan teman-teman. (bersambung )

Selasa, 01 November 2016

Puzzle Kenangan di CC 1 (by Tri Suhartini)

Puzzle Kenangan di CC 1

Haiiiii teman teman.... namaku Tini , teman2 biasa memangilku init . Nama itu panggilan sayang yang diberikan sahabatku Nana waktu kls 3 SMP. Aku sangat senang bisa berjumpa kembali dengan teman-teman dan sahabatku di CC 1. Sudah sekian lama aku merindukan bertemu kembali dengan kalian teman-teman CC 1.

Awal mula pertemuanku dengan grup ini berawal dari reuni SMA di hari lebaran bulan Juli 2016 kemarin , aku bertemu dengan Broto yang kemudian memberitahuku bahwa teman2 SMP mau kopdar tetapi semuanya cowok. Aku bilang sama Broto nggak bisa ikut tetapi kemudian ditawari dimasukkan di grup WA SMP.

Pada waktu pertama kali lihat anggota grup blank semua, yang kuingat hanya wajah Arief Makruf (kebetulan kating waktu kuliah) dan Asta karena sudah berteman di FB. Lama kelamaan anggota grup bertambah banyak dan semakin asyik bisa haha hihi dengan teman-teman semua bernostalgia masa-masa masih culun-culun-nya waktu itu.

Dari saling mengumpulkan puzle-puzle kenangan aku teringat kejadian lucu yang kualami pada waktu aku bersekolah di SMP CC 1 dulu...... kejadian itu selalu membuatku malu kalau diingat.
Ach..... kalau kuceritakan mungkin kalian pasti akan mentertawakan kebodohanku... tapi buat kenangan akan kubagi ceritaku....
      " Saat itu hari senin tiba.... saatnya kelasku bertugas menjadi petugas upacara.  Aku kurang ingat pada waktu itu kelas 1 atau kelas 2, yang kuingat aku diberi tugas sebagai pembaca teks pancasila.... ahaiiii si kecil Tini dapat tugas lumayanlah padahal waktu itu yang kuincar pingin jadi petugas bendera kelihatan keren begitu, tetapi apa daya karena badanku yang kecil cita-cita itu kandas huaaa huaaaa…..

Nah berawal dari sinilah cerita lucu itu terjadi.....  sebagai petugas pembaca Teks PancaSila berada di teras depan kelas menghadap ke selatan arah tiang bendera, sedangkan petugas yang lain berada di bawah .... pada waktu penghormatan kepada bendera merah putih, sang komandan upacara berteriak "Kepada Sang Merah Putih hooooormaaaaat graaaak " reflek petugas yang di bawah balik kanan dan akupun juga ikut balik kanan menghadap tembok kelas langsung seluruh pasukan geeeerrr mentertawakanku yang seharusnya aku tdk usah ikut balik kanan.

Waduuuuh betapa malunya aku malah hormat ke tembok kelas, mau balik kanan lagi tambah malu ... ya sudah deh tak terusin hormat pada tembok....  Wkwkwk.... sungguh sungguh terwelu malu banget aku kalau ingat kejadian itu....untung aku nggak pingsan saking malunya ...

Inilah sepenggal kisahku di SMP CC, masih banyak cerita lain tunggu potongan puzzle berikutnya.......

Salam horeg-horeg dariku buat teman-teman semua yang kusayang..


..bye..bye..

Puisi Borobudur (by 3i - aurI, lestarI, nasrI)









BOROBUDUR  1
(Karya Auri)
Mentari senja di ufuk sana
Memancar cahaya merona
Temaram hitam pucuk stupa
Meredup dan menghitam
Ditelan sang surya

Hitam ke abuan
Bertumpuk batu berpahat
Tinggi menjulang
Bak menantang awan
Arca-arca tak bernyawa
Diantara susunan bebatuan

Reliefmu yang terus melegenda
Membuatku tak kuasa memandang
Di gelapnya malam
Kau perkasa di tengah hamparan
Di kala datangnya sang surya

Kau sejuk bermandikan embun
Di teriknya matahari
Kau bagai stupa menantang langit
Kau karya nenek moyang
Yang tak kenal lelah
Membangun sebuah karya
Untuk sebuah peradaban
Yang besar dan beradab.....
===

BOROBUDUR 2
(Karya Lestari)

Rangkaian batu di alam nan megah
Saksi bisu Syailendra yang membahana
Akankah khalayak mengira
Bangunan megah itu tercipta

Lukisan batu nan indah mempesona
Sejarah manusia berawal dari sana
Hidup damai penuh suka dan cinta
Seolah tak lapuk karena usia.

Duduk bersila Budha di sana
Tangan bersembah di depan dada
Semadi melantunkan bait bait doa
Damai manusia di ujung asa










BOROBUDUR 3
(Karya Lestari)

Batu  batu  batu  batu
Hitam  hitam  hitam  hitam
Rekat  rekat  rekat  rekat
Pakai apa ya ???
Putar  putar  putar  putar
Naik  naik  naik  naik
Tinggi  tinggi  tinggi  tinggi
Paling atas ada apa ya ???
Stupa  stupa  stupa  stupa
Budha  Budha  Budha  Budha
Indah  indah  indah  indah
Budha berdoa...jawabnya.

==
BOROBUDUR 4
(karya Nasri)
Tahun 825 masehi kau berdiri,
Usia yang sangat tua..namun.
Kau tetap kokoh membahana..
Di seluruh jagat raya..

Kau dirancang dengan akurasi tinggi
Gunadharma yang paling ahli.
Borobudur....kau di bangun oleh raja diraja samaratungga.

Sepuluh tingkatan bentukmu...
Diklompokan menjadi tiga..
Apa itu.........?
Ramadhatu.....
Rupadhatu......
Arupadhatu......
Sungguh luar biasa

Diatas bukit menoreh yang membentang
Kupandang jauh ketimur....disana merbabu dan merapi duduk bersanding
Kupandang kebarat.... disana sumbing dan sindoro sedang tersenyum...
Kutundukan kepala disana progo dan elo berjabat tangan

Walau hujan badai panas membakar...
Kau tetap bertahan
Borobudur ..........
Kaulah ke banggaanku

Borobudur ..........kaulah salah satu warisan negri.

aurI lestarI nasrI
Puisi ini dipersembahkan untuk :
1.      Ibu Sulitiyani Kusumo (Alm.)
2.      Teman-Teman Penikmat Puisi
3.      Indonesia Tercinta

KiJarot Telah Mendahului Kita

Senin, 17 Nopember 2025, Temen kita KiJarot Telah Mendahului Kita... Innalillah wa innaillaihi roji'un , Smoga husnul khatimah (tri jus ...